Ass, anak-anakku...
ini naskah drama yang saya pilihkan untukmu. kalian harus mengcopy, mencetak, membacanya, dan menggaulinya hingga mewujud ke dalam sebuah pementasan drama yang HARUS saya saksikan sebagai penilaian tugas akhir di minggu II bulan Juni 2012.
selamat berlatih. sukses!
Lena Tak Pulang
Karya : Muram Batubara
JUARA I
LOMBA PENULISAN NASKAH TEATER REMAJA
TAMAN BUDAYA JAWA TIMUR
2006
SATU
Lampu
menyala.
Dalam
sebuah rumah. Sofa besar menghadap tv. Meja makan. Kulkas. Pintu kamar mandi.
Pintu dapur. Pintu kamar tidur. Pintu keluar masuk rumah. Pak Lena duduk
memandang tv. Bu Lena keluar dari kamar mandi.
Bu Lena
Lena sudah pulang, Pak?
Pak Lena
Belum
Bu Lena
(Duduk di kursi meja
makan) Bagaimana ini? Sudah tiga hari ia tidak pulang.
Pak Lena
Nanti juga pulang
Bu Lena
Sudah tiga hari
Pak Lena
Nanti juga pulang
Bu Lena
Ya, tapi belum juga
pulang, padahal sudah tiga hari. Dia itu kan perempuan.
Pak Lena
(Tetap memandang tv)
Anak kita
Bu Lena
Iya, anak kita, tapi
ia perempuan dan belum pulang tiga hari.
Pak Lena
Nanti juga pulang
sendiri ketika bekalnya lari telah habis.
Bu Lena
Tidak segampang itu,
Pak, ia itu perempuan!
Pak Lena
Jika memang ia
perempuan, ia akan pulang.
Bu Lena
Tapi
belum…(Menghentikan kalimat, memperhatikan pintu keluar rumah)
Ada yang datang,
sepertinya itu Lena, anak kita, pulang juga ia setelah tiga hari tidak pulang.
Pak Lena
Bukan, pasti temannya
datang mencari.
Bu Lena
Pasti Lena
Pak Lena
Berani taruhan
Bu Lena
Taruhan apa?
Pak Lena
Jika bukan Lena,
lebaran tahun ini kita pulang ke rumah orang tuaku.
Bu Lena
Tapi tahun kemarin
sudah
Pak Lena
Itu karena kau kalah
taruhan
Bu Lena
Ya tidak bisa,
bayangkan dalam lima tahun ini kita tidak pernah pulang ke rumah orang tuaku.
Pak Lena
Berani taruhan tidak?
Bu Lena
(Bingung) Ehm…
Pak Lena
Dengar langkah itu
sudah semakin dekat.
Bu Lena
Baik
Terdengar ketukan pintu. Bu Lena membuka
pintu. Kecewa.
Tamu I
Permisi Tante, Lenanya
ada?
Bu Lena
Oh tidak ada, dia
belum pulang.
Tamu I
Belum pulang? Pergi
ke mana ya Tante?
Bu Lena
Tante juga tidak tahu
tuh, kamu tahu tidak?
Tamu I
Ya, kalau tahu saya
tidak datang Tante.
Bu Lena
Iya juga ya. Hm, kamu
teman sekolahnya ya?
Tamu I
Bukan Tante, saya
teman…
Pak Lena
(Memotong) Suruh
duduk dulu, hanya tukang pos yang diterima di depan pintu.
Tamu I
Terima kasih Om, saya
harus kembali pulang.
Pak Lena
Kenapa buru-buru?
Tamu I
Ada yang harus
buru-buru saya lakukan
Bu Lena
Jika buru-buru, kenapa
mencari Lena?
Tamu I
Ya itu dia, Tante.
Karena Lenalah saya harus buru-buru?
Pak Lena
Masuk dulu jangan
buru-buru
Bu Lena
Iya masuk dulu
Tamu I
Maaf tidak bisa, saya
permisi dulu.
Bu
Lena menutup pintu. Duduk di ruang tv.
Pak Lena
Siapa namanya?
Bu Lena
Siapa?
Pak Lena
Yang tadi?
Bu Lena
Teman Lena
Pak Lena
Iya, teman Lena tadi
namanya siapa?
Bu Lena
Berarti tahun ini
kita pulang ke rumah orang tuamu lagi?
Pak Lena
Jelas! Siapa nama
teman Lena tadi!
Bu Lena
Sudahlah ke rumah
orang tuaku saja. Kasihan ibu sudah semakin tua, dia ingin melihat kita
sekeluarga kan?
Pak Lena
Tidak bisa!
Kesepakatan telah tercipta, tidak bisa dirubah. Jika terus dirubah, bagaimana
menjalankan kesepakatan itu dan untuk apa membuat kesepakatan jika tidak ada
kepastian untuk dilakukan. Siapa nama teman Lena tadi?
Bu Lena
Nggak tahu.
Pak Lena
Loh
Bu Lena
Kok loh
Pak Lena
Ya, loh, bagaimana
mungkin kamu tidak menanyakannya?
Bu Lena
Kenapa bukan kamu?
Pak Lena
Aku kan sedang nonton
tv dan aku tidak sedang berhadapan langsung dengannya.
Terdengar ketukan pintu.
Pak Lena
Ada yang ketuk pintu,
bukahlah.
Bu Lena
Bagaimana jika Lena?
Pak Lena
Ya tetap dibuka pintu
kan?
Terdengar ketukan pintu.
Bu Lena
Bukan itu, jika bukan
Lena, perjanjian tadi batal.
Terdengar ketukan pintu.
Pak Lena
Bukalah pintu itu,
kasihan tamunya.
Bu Lena
Buat satu kesepakatan
baru dulu.
Terdengar ketukan pintu.
Bu Lena
(Teriak ke arah
pintu) sebentar ya, lagi menunggu kesepakan nih, sabar ya.
Pak Lena
Ya sudah, buka sana.
Bu Lena
Kesepakatan?
Pak Lena
Yah!
Pintu
terbuka. Bu Lena puas. Perbincangan di depan pintu masuk rumah.
Tamu II
Kesepakatan apa
Tante?
Bu Lena
Ah, tidak. Kamu siapa
dan ada apa?
Tamu II
Saya temannya Lena,
Tante, kebetulan saya sedang main di daerah sini.
Bu Lena
Terus
Tamu II
Ya, terus saya
mampir. Karena kebetulan saya sedang main di daerah sini, jadi saya mampir ke
sini, Tante.
Bu Lena
Terus
Tamu II
Ya, karena itu Tante,
hm, Lenanya ada?
Bu Lena
Jadi karena kebetulan
main di daerah sini, kamu mampir dan mencari Lena?
Tamu II
Benar itu Tante.
Bu Lena
Karena kebetulan?
Tamu II
Sebenarnya tidak
Tante.
Bu Lena
Yang benar yang mana?
Tamu II
Saya memang mencari
Lena, Tante.
Bu Lena
Karena main di daerah
sini?
Tamu II
Tidak Tante, saya
memang sengaja kemari untuk mencari Lena. Sumpah, Tante.
Pak Lena
(Memotong) Suruh
duduk dulu, hanya tukang pos yang diterima di depan pintu.
Tamu II
masuk dan duduk di ruang tv. Bu Lena masuk dapur.
Tamu II
Nonton berita ya, Om?
Pak Lena
Tidak, cuma sedang
melihat tanggapan wakil rakyat tentang bencana yang tidak berkesudahan.
Tamu II
Itukan berita
namanya, Om.
Pak Lena
Itu bukan berita, itu
opini. Opini itu pendapat, kebenarannya masih belum bisa diandalkan. Namanya
berita harus mengutamakan kebenaran, kenyataan.
Tamu II
Tapi itukan acara
berita, Om.
Pak Lena
Memang, beritanya,
wakil rakyat sedang memberikan opini.
Tamu II
Berarti sedang nonton
berita, Om.
Pak Lena
Tidak, saya sedang
melihat opini. Ingat, opini!
Tamu II
Bedanya apa, Om?
Pak Lena
Opini itu tidak murni
kenyataan, namanya juga pendapat, sedang berita itu nyata, kenyataan tadi.
Begini, kucing ditabrak mobil, itu berita.
Tamu II
Kalau opini?
Pak Lena
Mengapa kucing itu
mau ditabrak?
Tamu II
Mungkin saja ia tidak
melihat mobil yang laju, tiba-tiba saja ia sudah bersimbah darah.
Pak Lena
Itu dia opini.
Tamu II
Opini?
Pak Lena
Ya, opini kamu. Lihat
omongan wakil rakyat itu, semuanya serba mungkin kan?
Tamu II
Jadi yang serba
mungkin itu bukan berita?
Pak Lena
Mungkin kok berita.
Mungkin itu kan belum jelas sedang berita adalah yang jelas dan pasti.
Tamu II
Tapi apa yang pasti
di jaman sekarang, Om?
Pak Lena
Ya, opini.
Bu Lena
keluar dapur membawa teh dalam gelas menuju kulkas. Membukanya.
Tamu II
Tidak usah yang
dingin, Tante, lagi batuk.
Bu Lena
Mau puding?
Tamu II
Boleh, Tante.
Bu Lena
Tapi dingin?
Tamu II
Tidak apa-apa, Tante,
kan cuma puding.
Bu Lena
ke ruang tv dan meletakkan sajian kemudian kembali menuju dapur.
Pak Lena
Kamu temannya Lena?
Tamu II
Benar itu, Om.
Pak Lena
Teman dari mana?
Tamu II
Ya teman saja, Om,
tidak dari mana-mana.
Pak Lena
Yang dari sekolahan,
les biola, les balet, renang, atau malah dari kelas mengaji?
Tamu II
Untuk yang terakhir
tampaknya bukan, Om.
Pak Lena
Mengapa? Apa karena
sudah pintar mengaji?
Tamu II
Tidak Om, saya non
muslim.
Pak Lena
Oh begitu, terus dari
mana?
Tamu II
Saya teman Lena dari
tempat nongkrong, Om.
Pak Lena
Seingat saya Lena
tidak mengambil les nongkrong.
Tamu II
Om, lucu juga. Tempat
nongkrong itu tempat kita kumpul-kumpul, ya, istilah kerennya berbincang atau
berdiskusi.
Pak Lena
Oh begitu, tapi yang
nongkrong itu kan tentunya berasal dari tempat tertentu. Nah, kamu itu selain
teman nongkrong Lena, teman di mana?
Tamu II
Ya tidak ada, Om.
Saya cuma teman Lena di tempat nongkrong.
Pak Lena
Terlalu tipis,
pertemanan itu belum begitu kuat. Hm, lalu maksud kamu mencari Lena?
Tamu II
Ya itu dia Om, saya ingin tahu
tentang apa yang terjadi dengan Lena. Sudah tiga hari ia tidak muncul, Om.
Pak Lena
Memangnya kenapa
kalau ia tidak muncul dalam tiga hari?
Tamu II
Ya itu dia, Om.
Pak Lena
Apa?
Tamu II
Ehm, dia bawa sesuatu
yang penting, Om. Sesuatu yang sangat saya banggakan.
Pak Lena
Oh begitu. Penting
sekali?
Tamu II
Sangat penting malah,
Om.
Pak Lena
Lena mengambilnya
dari kamu?
Tamu II
Begitulah Om, saya
malah tidak tahu bagaimana bersikap jika tidak ada kabar dari Lena.
Pak Lena
Banyakkah?
Tamu II
Ya kalau besar itu
dianggap banyak, ya, banyak Om.
Pak Lena
Begini saja, kamu
pulang dulu, besok kamu kembali lagi. Yang kamu punya itu pasti akan kembali.
Tamu II
Tapi Lenanya
bagaimana Om?
Pak Lena
Itu urusan saya.
Tamu II
Kalau memang begitu,
tentunya dengan ada kepastian dari Om, saya menjadi yakin untuk datang besok.
Pak Lena
Ya, ya, pulanglah.
Tamu II
pergi, Bu Lena masuk.
Pak Lena
Anakmu membawa lari
uang temannya?
Bu Lena
Bagaimana bisa?
Pak Lena
Temannya yang datang
tadi, yang terlalu banyak bicara itu, melaporkan apa yang telah dilakukan
anakmu.
Bu Lena
Anak kita
Pak Lena
Ya, anak kita.
Pencuri.
Bu Lena
Belum tentu benar,
jangan terlalu banyak percaya dengan orang yang terlalu banyak bicara.
Pak Lena
Tapi bagaimana bisa
kita percaya dengan orang yang sedikit bicara, dari mana kita tahu isi
kepalanya jika tidak dikeluarkannya.
Bu Lena
Terlalu banyak bicara
malah menghilangkan kata-kata kunci, kata yang seharusnya bisa menjadi andalan.
Pak Lena
Tanpa bicara, kata
kunci itu malah tidak keluar, bagaimana bisa ia tampak?
Bu Lena
Tetapi mengapa kau
begitu percaya dengan anak ingusan yang terlalu banyak bicara itu?
Pak Lena
Karena tampaknya benar, sudah
tiga hari Lena pun tidak muncul di tempat biasa mereka bertemu.
Bu Lena
Bagaimana jika benar?
Pak Lena
Kita harus
menggantinya, tidak bisa tidak, Lena kan anak kita.
Bu Lena
Jika tidak benar?
Pak Lena
Mau taruhan?
Lampu padam
DUA
Lampu menyala. Dalam sebuah
rumah. Sofa besar menghadap tv. Meja makan. Kulkas. Pintu kamar mandi. Pintu
dapur. Pintu kamar tidur. Pintu keluar masuk rumah. Pak Lena duduk memandang
tv. Bu Lena keluar dari kamar mandi.
Bu Lena
Lena sudah pulang,
Pak?
Pak Lena
Belum
Bu Lena
(Duduk di kursi meja
makan) Bagaimana ini? Sudah empat hari ia tidak pulang.
Pak Lena
Nanti juga pulang
Bu Lena
Kemarin kau jawab
seperti itu juga, tidak kemarin saja, kemarinnya lagi dan kemarinnya lagi juga.
Pak Lena
Terus harus
bagaimana? Berteriak, mengabarkan pada semua orang bahwa anak kita yang
perempuan tidak pulang dalam empat hari ini. Bagaimana kata dunia? Apa kata
mereka pada kita? Orang tua yang tidak bertanggung jawab?
Bu Lena
Tampaknya kita memang
tidak bertanggung jawab.
Pak Lena
Kok bisa?
Bu Lena
Lihatlah sendiri! Apa
yang kita lakukan pada anak kita? Empat hari, bayangkan empat hari anak kita
tidak pulang, tidak ada usaha kita untuk mencarinya.
Pak Lena
Menunggu juga
mencari.
Bu Lena
Menunggu itu pasrah
Pak Lena
Tidak sama, pasrah
itu tanpa berbuat. Mununggu itu kan berbuat, sama seperti berdoa.
Bu Lena
Apa yang dilakukan
dalam menunggu? Diam memandang tv atau sibuk berbincang tanpa tujuan?
Pak Lena
Jika kita ke kantor
polisi dan melaporkan kehilangan anak, terus apa yang kita lakukan? Menunggu
kan? Menunggu kabar dari pak polisi itu. Dan dalam menunggu kabar dari pak
polisi, kita juga menonton tv atau berbincang kemana suka kan? Sama saja.
Bu Lena
Beda
Pak Lena
Apanya yang beda?
Jika kita memasang iklan tentang kehilangan, sama juga seperti melapor ke
polisi. Jika kita mencari sendiri, sama juga dengan menunggu kabar kan? Kita
mencari itu tanpa tujuan, kita tidak tahu di mana anak kita berada, jadi sama
juga dengan nol. Kita tetap juga menunggu. Daripada kita memutari kota,
tentunya habis energi, toh lebih baik kita di rumah. Semuanya itu berarti menunggu,
mencari itu juga menunggu. Menunggu juga mencari. Jelas!
Bu Lena
Pusing aku. Jika kita
tahu di mana Lena berada kan gampang, bisa kita jemput.
Pak Lena
Itu dia kata yang
tepat. Menjemput. Menjemput itu jelas beda dengan mencari atau juga menunggu.
Bu Lena
Tapi kita tidak tahu
di mana Lena berada?
Pak Lena
Yah harus dicari
Bu Lena
Dengan?
Pak Lena
Ya menunggu.
Terdengar
ketukan pintu
Pak Lena
Bagaimana ini, ini
pasti teman Lena yang banyak bicara kemarin itu.
Bu Lena
Yang uangnya Lena
curi itu?
Pak Lena
Bagaimana ini, apa
yang harus kita lakukan.
Bu Lena
Kita bayar saja
Pak Lena
Tapi kita belum
ketemu Lena, bisa saja berita ini tidak benar.
Terdengar
Ketukan pintu
Bu Lena
Jika belum benar,
jangan dibayar dulu
Pak Lena
Tapi kita belum tahu
mana yang benar. Kenapa Lena belum pulang juga.
Terdengar
ketukan pintu
Bu Lena
Bagaimana jika dia
datang dengan polisi.
Terdengar
ketukan pintu
Pak Lena
Bukahlah pintu
Bu Lena
Kau saja
Pak Lena
Kau kan perempuan
Bu Lena
Kau kan laki-laki
Pak Lena
Perempuan duluan,
atas nama kesopanan.
Terdengar ketukan pintu
Bu Lena
(Teriak ke arah pintu
masuk) Sebentar ya.
Pak Lena
Bukalah pintunya
(Berlari kecil menuju depan tv, seakan-akan tak terjadi sesuatu)
Pintu
Terbuka. Bu Lena bingung.
Tamu I
Maaf Tante, Lenanya sudah pulang?
Belum ya? Ya sudahlah, nanti saya datang lagi. Terima kasih Tante. Tolong nanti
kalau Lena pulang, katakan saja saya mencari dan akan kembali lagi. Permisi
Tante. (Pergi menghilang)
Pak Lena
Suruh duduk dulu,
hanya tukang pos yang diterima di depan pintu.
Bu Lena
Sudah pulang (menutup
pintu dan berjalan menuju ruang tv) tamunya sudah pulang.
Pak Lena
Tukang pos?
Bu Lena
Bukan, temannya Lena?
Pak Lena
Yang kemarin?
Bu Lena
Ya
Pak Lena
Terus dia menagih
uangnya? Apa yang kau bilang hingga dia langsung pulang.
Bu Lena
Aku tidak bilang
apa-apa dan dia bukan yang uangnya dicuri Lena.
Pak Lena
Jadi teman yang mana?
Bu Lena
Yang pertama datang,
yang lupa kutanyakan namanya.
Pak Lena
Sudah tahu kau
namanya?
Bu Lena
Belum, dia terlalu
buru-buru. Belum sempat aku bicara dia sudah pergi.
Pak Lena
Tampaknya dia memang selalu
buru-buru. Tunggu dulu, siapa nama teman Lena yang banyak bicara itu?
Bu Lena
Kenapa kau tanyakan
aku, bukankah kau yang banyak bicara dengannya? Seharusnya kau tanyakan
namanya.
Pak Lena
Itu dia, dia terlalu
berlama-lama sampai aku lupa menanyakan, padahal aku sudah berhadapan langsung
dengannya.
Bu Lena
Sudahlah. Setidaknya
bukan dia yang datang jadi kita tidak perlu risau lagi.
Pak Lena
Untuk sementara
Bu Lena
Walau sementara, setidaknya
tidak risau.
Lampu padam
TIGA
Lampu menyala. Dalam sebuah
rumah. Sofa besar menghadap tv. Meja makan. Kulkas. Pintu kamar mandi. Pintu
dapur. Pintu kamar tidur. Pintu keluar masuk rumah. Bu Lena duduk memandang tv.
Pak Lena keluar dari kamar mandi.
Pak Lena
Sudah hampir sore,
hari keempat sejak tidak pulang, apakah Lena tidak akan pulang lagi?
Bu Lena
Belum lima hari
Pak Lena
Hampir lima hari,
lihatlah sudah mendekati senja. Jika matahari terbenam dan terbit lagi, tepat
lima hari Lena tidak pulang. Apakah bekal larinya masih cukup?
Bu Lena
Mengapa kau kuatir?
Pak Lena
(Menuju pintu keluar
masuk rumah, membukanya, menegok keluar dan menutupnya kembali) Belum pulang
juga.
Terdengar
ketukan pintu. Pak Lena langsung membuka. Tersenyum senang.
Pak Lena
Pulang juga rupanya
kau Lena
Lena
Lapar (Berjalan
menuju dapur, keluar lagi sambil membawa piring makanan, makan di meja makan.)
Bu Lena
(Mendekat dan
langsung duduk di samping Lena) Makanlah yang banyak, tentunya kau lapar.
Pak Lena
(Mendekat dan langsung
duduk di samping Lena) Dari mana saja?
Bu Lena
Jangan ditanyakan
dulu, biarkan dia makan dengan tenang. Sudah hampir lima hari dia berada di
luar, rindu dengan rumah ini tentunya.
Pak Lena
Banyak temanmu yang
datang.
Bu Lena
Jangan dikatakan
dulu, biar dia makan dengan nyaman, sudah lima hari dia di luar, banyak bertemu
orang tentunya, lebih banyak dari kawannya yang datang. (Berjalan menuju kulkas
dan mengeluarkan botol air dingin, menuangkan ke gelas Lena) Dari mana saja kau
Lena?
Pak Lena
Kenapa kau tanyakan?
Lena
Dari rumah teman
(Terus makan)
Pak Lena
Temanmu yang mana?
Yang dari sekolahan, les biola, les balet, renang, kelas mengaji, atau malah
teman nongkrong?
Bu Lena
Ya, yang mana?
Lena
Teman lain
Pak Lena
Masih ada temanmu
yang lain rupanya.
Bu Lena
Teman yang mana?
Lena
Kenapa terlalu
mengurusi sih? Bukannya selama ini aku bebas, seperti yang kalian inginkan.
Mengapa kalian bertanya ketika aku menghilang, mengapa tidak mencari? Lalu,
apakah kalian pernah menanyakan aku sekolah apa tidak? Dan, untuk apa les yang
mahal-mahal itu, bukan untukku kan? Untuk kalian yang gila gengsi tanpa
memikirkan kebutuhanku kan? (Berdiri, membawa makanan, duduk di depan tv sambil
terus makan.)
Pak Lena
(Berbisik) Bagaimana
ini?
Bu Lena
(Berbisik pula)
Bagaimana apanya?
Pak Lena
Dia terlalu tertutup,
kita harus bisa membukanya. Mengapa kita yang disalahkan? Kita kan hanya
menanyakan temannya saja.(Mendekati Lena) Enak makannya?
Lena
Biasa saja
Bu Lena
(Mendekati Lena) Tentunya enak,
Ibu sengaja masak untuk kamu.
Lena
Sejak kapan masak
khusus? (Berjalan menuju dapur, masuk ke dalamnya)
Bu Lena
(Berbisik) Tidak
berhasil. Tampaknya dia memang marah pada kita.
Pak Lena
(Berbisik pula) Kita
harus lebih berusaha lagi.
Lena
keluar dari dapur tanpa membawa sebarang pun. Bu Lena dan Pak Lena mendekat,
persisi menghalangi jalan Lena yang masih berada di depan pintu.
Pak Lena
Sudah selesai
makannya?
Bu Lena
Enak kan? Pasti
kenyang.
Lena
(Menghindar dan
berjalan menuju kamar tidur) Mau tidur
Pak Lena
(Mengejar hingga
depan pintu kamar tidur) Belum malam
Bu Lena
(Ikut mengejar) Iya,
belum malam, mari kita berbincang dulu.
Lena
masuk kamar. Pintu tertutup. Bu Lena dan Pak Lena duduk di kursi meja makan.
Bu Lena
Apa sebab dia begitu
dingin
Pak Lena
Mungkin kita terlalu
kaku
Bu Lena
Kau yang kaku
Pak Lena
Mungkin kau juga.
Terdengar
ketukan pintu
Pak Lena
Pasti temannya yang
banyak bicara itu, yang uangnya dicuri Lena, bagaimana ini? Kita belum bicara
tentang itu dengan Lena.
Bu Lena
Mungkin temannya yang
lain.
Terdengar
ketukan pintu
Bu Lena
Kau saja yang buka,
terserah itu melangkahi kesopanan.
Pak Lena
(Malas membuka pintu, hingga
sampai depan pintu, menoleh ke Bu Lena dengan bingung) Sebaiknya kau saja.
Terdengar
ketukan pintu. Pak Lena terkejut dan langsung membuka pintu. Tambah terkejut
melihat tamu yang datang.
Tamu II
Terkejut, Om.
Pak Lena
(Gagap) Tidak, tidak.
Ayo masuklah.
Bu Lena
menyingkir ke dapur. Pak Lena dan Tamu II duduk menghadap tv.
Tamu II
Saya tidak kebetulan
main ke daerah sini, Om. Saya khusus datang seperti permintaan, Om, kemarin
itu. Jadi rasanya tidak perlu basa-basi lagi…
Pak Lena
(Memotong) Basa-basi
itu terkadang perlu. Ayolah berbasa- basi.
Bu Lena
(Muncul membawa
segelas minuman hangat) Iya, kenapa harus langsung jika kita bisa berbasa-basi
terlebih dahulu.
Tamu II
Wah, tampaknya akan
ada lampu hijau nih.
Pak Lena
Tidak hanya boleh
langsung jalan, ini jalan tol jadi bisa sekencang apa juga.
Tamu II
Boleh ngebut?
Pak Lena
Oh tentu, asal pakai
pengaman biar tidak kecelakaan.
Tamu II
(Tertawa) Ini dia
calon mertua yang paling hebat.
Bu Lena
Mertua?
Pak Lena
Ada apa dengan
mertua?
Tamu II
(Bingung) Katanya
boleh langsung ngebut?
Pak Lena
(Bingung juga) Tunggu
dulu. Begini saja, kita buang dulu basa-basi. Apa maksudnya ini? Mertua dan
ngebut, hubungannya apa?
Tamu II
Loh, bukankah sudah
jelas Om, ini soal sesuatu yang saya miliki itu, yang dibawa Lena.
Bu Lena
Ya terus.
Tamu II
Bukankah hari ini
akan saya temukan lagi, seperti janji Om kemarin.
Bu Lena
Uang kan?
Pak Lena
Ya, berapa yang
dicuri dari kamu?
Bu Lena
Masalah besarnya tidak perlu
risau, kami akan bayarkan semuanya, bagaimanapun Lena itu anak kami, jadi tidak
mungkin kami membiarkannya mencuri uang kamu.
Pak Lena
Ya benar itu.
Bu Lena
Tunggu dulu, biar
semuanya jelas (Berjalan menuju kamar Lena) Lena! Keluar kamu, Nak.
Tamu II
Tunggu dulu, Tante…
Bu Lena
Tenang, biar jelas
saja.
Tamu II
Tapi…
Pak Lena
Tenang saja
Bu Lena
Lena!
Lena
(Keluar dengan muka
suntuk, bertambah suntuk begitu melihat Tamu II) Ada apa?
Bu Lena
Ayo, ada yang harus kita selesaikan.
(Menggiring Lena ke depan tv)
Tamu II
(Tersenyum manis) Hai
Len.
Lena
(Senyum masam) Ada
apa?
Pak Lena
Tenang, santai
semuanya. Begini, sebaiknya kita cari tahu yang sebenarnya. Bu, kau saja yang
bicara.
Bu Lena
Lena, teman kamu ini kemarin
sudah datang, tapi karena kamu belum pulang, kami suruh dia datang sekarang.
Nah, dia ini datang untuk meminta sesuatu yang kamu bawa, begitulah.
Pak Lena
Ya, dengan kata lain
ia datang untuk menagih sesuatu yang telah kau curi. Nah, berapa jumlahnya,
Nak, berapa yang kau ambil darinya.
Tamu II
(Panik) Tunggu dulu…
Pak Lena
Sudah kamu jangan
bicara dulu. Berapa Lena?
Lena
(Bingung) Lena tidak mencuri
apa-apa. Hey (Menunjuk Tamu II) kamu jangan sembarangan menuduh aku pencuri ya!
Sampai datang ke rumah lagi!
Bu Lena
Sabar Nak, tenang.
Katakan saja jumlahnya, biar kita ganti. Jangan takut kami marah. Sungguh kami
tidak akan marah.
Pak Lena
Ya katakan saja, biar
semuanya jelas.
Lena
Ahk, bagaimana ini! Lena tidak mencuri, sumpah. Tanyakan
saja sama dia. (Duduk dengan sewot)
Tamu II
Waduh, bagaimana ini,
kenapa bisa kacau. Begini saja, Om, saya permisi, anggap saja tidak terjadi
apa-apa. (Bergerak pergi)
Pak Lena
(Menahan) Bagaimana
kamu ini, bukannya kamu ingin mengambil yang telah dicuri Lena?
Tamu II
Sudahlah Om, tidak
apa-apa, biarkan saja.
Bu Lena
Tidak bisa begitu.
Begini saja, berapa yang dicuri Lena?
Lena
Ya berapa yang
kucuri! Cepat bilang!
Tamu II
(Takut) Tidak ada…
Pak Lena
Apa!
Tamu II
Lena tidak mencuri uang, Om.
Sejak tadi dan malah kemarin saya sudah ingin jelaskan tapi Om tidak mau
mendengar. Saya pikir Om sudah mengerti dengan yang saya maksud.
Pak Lena
Kok malah
menyalahkan.
Tamu II
Benar, Om. Saya sudah
coba jelaskan. Lena tidak mencuri uang tapi…
Bu Lena
Tapi apa? HP,
perhiasan, atau apa?
Tamu II
Bukan itu Tante.
Bu Lena
Jadi apa? Bicara yang
jelas!
Tamu II
(Malu) Lena mencuri hati saya,
Tante. Dengan kata lain, saya itu senang sama Lena tapi Lenanya belum
memberikan jawaban.
Terdengar
ketukan pintu. Semuanya terkejut.
Pak Lena
Siapa lagi itu, bukalah
pintunya, Lena kamu yang buka.
Pintu
terbuka. Lena tertawa.
Lena
Aku baru saja pulang,
kamu bolak-balik ya mencari aku?
Tamu I
Kurang ajar, kalau
utang cepat bayar dong!
Lena
Ala, gitu aja sewot.
Pak Lena
Suruh duduk dulu,
hanya tukang pos yang diterima di depan pintu.
Bu Lena
Siapa Len?
Lena
Teman
Bu Lena
Bawa temanmu ke
dalam, tidak baik terus di depan pintu.
Tamu I
Terima kasih Tante,
di sini saja.
Pak Lena
Masuklah, biar saling
bertemu semuanya.
Lena
Ayolah masuk
Tamu I
Bayar dulu utangmu,
ini urusan kita berdua.
Lena
Iya, nanti di dalam.
Tamu I
Tapi…
Lena
Tidak ada alasan
(menggandeng Tamu I)
SEMUANYA BERKUMPUL DI
DEPAN TV
Bu Lena
Oh, rupanya kamu.
Len, temanmu ini bolak-balik mencari kamu.
Tamu I
Maaf Tante,
merepotkan.
Pak Lena
Ah, tidak ada apa-apa.
Kenapa terlihat begitu penting, ada apa ini?
Tamu I
Tidak ada apa-apa,
Om, cuma sekedar mampir.
Pak Lena
Kalau cuma sekedar
berarti tidak berulang, benar tidak?
Tamu II
Kalau begitu saya
pulang lebih dulu saja, Om.
Pak Lena
Kamu di sini dulu,
masalah yang tadi belum selesai.
Lena
Masalah apa lagi?
Bu Lena
Lena, kamu kan belum
mengembalikan uang yang kamu curi dari dia.
Tamu I
Kamu mencuri uang,
Len?
Tamu II
Tidak… tidak, wah
serba salah semuanya.
Pak Lena
Sudahlah, mari kita
selesaikan. Lena, katakan saja berapa yang kau ambil dari dia?
Lena
(Marah) Kenapa nggak
ada yang percaya! Lena tidak pernah mencuri uangnya!
Tamu II
Iya, Om. Lena tidak
mencuri uang saya.
Lena
Dengar itu! Lena
tidak pernah mencuri! Lena cuma meminjam uang.
Tamu II
Kapan?
Lena
Bukan kamu!
Tamu I
Tidak, Om. Tidak,
Tante. Lena tidak pernah meminjam uang.
Lena
Hey!
Pak Lena
Tunggu dulu, ada apa
ini?
Bu Lena
Ya, yang benar yang
mana? Mencuri atau meminjam, lalu uang siapa yang dicuri atau dipinjam?
Tamu I
Bukan uang saya.
Lena
Hey!
Tamu II
Sudah jelas, saya
tidak ada hubungan dengan uang. Seperti yang sudah terkatakan tadi, hati saya
yang dicuri.
Bu Lena
Berarti uang kamu?
Berapa?
Tamu I
Tidak ada, Tante.
Lena
Hey! Jangan bohong
kamu. Aku pinjam uang kamu beberapa hari
yang lalu sebagai bekal lari dari rumah. Dan, bukankah kamu datang kemari untuk
menagihnya?
Bu Lena
Bekal lari?
Pak Lena
Lari dari mana, Nak?
Lena
Lihat, lihatlah orang
tuaku ini kawan-kawan. Aku lari dari rumah pun mereka tidak tahu. Yang mereka
pikirkan semua baik-baik saja. Aku benci! (marah mendekati menangis)
Tamu I
Aku tidak tahu, aku
pinjami kamu uang bukan untuk itu. Kalau aku tahu kamu pinjam uang untuk lari,
aku tidak beri tentunya.
Tamu II
Kamu lari dari rumah?
Kenapa tidak bilang padaku, Len. Aku, ah…
Tamu I
Kenapa, kamu mau
membantunya lari kan!
Lena
Diam kalian! Kalian
(memandang orang tua) lihatlah anak kalian ini! Apakah kalian hafal setiap tahi
lalatnya? Apa kalian tahu yang diinginkannya? Pandang aku melalui mataku jangan
pandang aku dengan mata kalian!
Bu Lena
Kenapa kamu harus
lari, Nak. Bukankah hidup di luar itu lebih berbahaya.
Pak Lena
Jika memang ingin
lari, kamu kan bisa permisi dulu, tidak perlu kamu pinjam uang kawan.
Lena
Ini bukan
piknik…(menangis)
Bu Lena
dan Pak Lena langsung mendekati Lena.
Tamu I
(Menarik Tamu II ke
sudut lain) Urusan keluarga, sebaiknya kita menyingkir.
Tamu II
Kita harus permisi
dulu
Tamu I
Kalau keadaannya
seperti ini, sebaiknya tidak perlu.
Tamu II
Uangmu…
Tamu I
Sudahlah…
Tamu I
dan Tamu II pergi dengan cepat. Tangis Lena semakin menjadi.
Pak Lena
Diamlah, jangan
menangis. Uang yang kamu pinjam akan kita ganti. (Menyadari Tamu I dan Tamu II
telah hilang) Bagaimana ini, mereka telah hilang. Uangnya belum kita ganti.
Lena
(Sambil menangis)
Bukan uang…
Pak Lena
Jika begitu mengapa
menangis?
Bu Lena
Diamlah, jangan
menangis terus. Kami bingung, Len. Ceritalah, Nak.
Lena
Lena tidak pulang
selama ini karena Lena merasa tidak punya rumah.
Bu Lena
Tidak punya rumah?
Lena
Ya, rumah ini
segalanya dihitung dengan uang, tidak ada pembicaraan yang menyenangkan. Kalian
sibuk dan Lena pun sibuk sendiri. Tidak ada yang perhatikan. Lena benci. Lena
butuh rumah yang benar-benar rumah!
Bu Lena
(Menangis) Maaf ya,
Nak. Mungkin selama ini kami tidak memperhatikan kamu, semuanya selalu dihitung
dengan uang. Rumah ini rumah kamu, rumah yang kami bebaskan untukmu, kami tidak
ingin mengekang, kami rasa itu yang baik.
Pak Lena
Membebaskan kamu
bukan berarti tidak perhatian. Dulu kami dikekang orang tua kami dan kami tidak
suka, maka kami ingin kamu tidak seperti kami.
Lena
(Lari masuk kamar)
Seharusnya kalian jadi orang tua yang benar-benar orang tua!
MUSIK PERLAHAN, SAHYDU BEGITU TERASA. BU LENA TERUS
MENANGIS.
Bu Lena
Kita salah
mendidiknya…
Pak Lena
Sebenarnya kita
bermaksud baik, tapi salah juga…
Bu Lena
Kita harus bagaimana?
Membebaskannya salah, mengekangnya juga bisa salah…
TERDENGAR KETUKAN PINTU
Bu Lena
Siapa lagi?
TERDENGAR
KETUKAN PINTU. PAK LENA MENUJU PINTU DAN MEMBUKANYA.
Bu Lena
Siapa lagi?
Selesai
Yogyakarta
maret-april 2006